APLIKASI BIOREMEDIASI, MIKORIZA, DAN BIOFERTILISASI UNTUK MENUNJANG PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN EMAS DI KALIMANTAN TENGAH 2012

Neneng, Liswara and Tanduh, Yusintha (2012) APLIKASI BIOREMEDIASI, MIKORIZA, DAN BIOFERTILISASI UNTUK MENUNJANG PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN EMAS DI KALIMANTAN TENGAH 2012. Project Report. Universitas Palangka Raya. (Unpublished)

[img] Text
LISWARA_ MP3EI _2012.pdf

Download (2MB)

Abstract

Lahan berpasir pasca tambang emas di Kalimantan Tengah memiliki luas puluhan ribu hektar. Lahan berpasir ini telah menjadi lahan kritis yang ditandai dengan hilangnya lapisan topsoil tanah, minimnya unsur hara dan vegetasi tanah, sebagian lahan masih terkontaminasi Hg (merkuri) dalam kisaran 2 hingga 4,5 ppm, dan pH tanah rata-rata 5. Kondisi ini sangat tidak menunjang pertumbuhan tanaman, akibatnya lahan berpasir yang rata-rata telah tidak digunakan lagi selama 2 hingga 10 tahun, tetap menjadi lahan berpasir yang sangat minim vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengurangi kontaminasi merkuri melalui proses bioremediasi menggunakan konsorsium bakteri lokal yang potensial mereduksi merkuri, 2) memperbaiki kondisi stuktur dan tekstur tanah melalui perlakuan penambahan media tanah dari bahan organik limbah sawit, 3) meningkatkan unsur hara tanah melalui penambahan biofertiliser dan mikoriza, 4) meningkatkan vegetasi tanah melalui kegiatan revegetasi menggunakan tanaman penutup dari kelompok leguminosae (Calopogonium sp.), dan jenis tumbuhan kelapa sawit. Metode penelitian yang digunakan adalah implementasi untuk uji secara eksperimental di laboratorium untuk menentukan metode persiapan lahan yang sesuai untuk kelapa sawit (penelitian tahun I), dan eksperimental di lapangan (penelitian tahun II) dengan menggunakan hasil terbaik yang diseleksi dari tahun I, dan melibatkan penduduk setempat untuk proses persiapan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Pada penelitian tahun ke III, dipilih hasil terbaik dari penelitian tahun II, dengan lebih mengoptimalkan peran serta masyarakat. Perlakuan dalam penelitian berupa: bioremediasi, penambahan mikoriza, biofertilisasi, dan revegetasi. Indikator keberhasilan diukur dari: 1) pengurangan polutan merkuri pada tanah, 2) peningkatan unsur hara tanah (makro dan mikro), 3) perbaikan stuktur dan tekstur tanah, 4) pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Metode bioremediasi menggunakan konsorsium bakteri Pseudomonas sp. dan Klebsiella sp. (telah diuji sejak tahun 2006), dan tumbuhan fitoremediator merkuri berupa karamunting (Melastoma sp.,) yang telah diuji sejak tahun 2009. Biofertiliser menggunakan: limbah sawit dan kompos dari limbah organik. Jenis mikoriza yang digunakan adalah MVA, jenis tanaman penutup berupa Calopogonium sp., dan Arachis sp., dan tumbuhan bernilai ekonomis yang diuji coba adalah kelapa sawit. Lokasi penelitian dilaksanakan di areal pasca tambang emas di Hampalit, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Lokasi ini dipilih karena merupakan lokasi terbesar dengan hamparan lahan tandus berpasir yang paling luas dan representatif untuk lahan pasca tambang emas di Kalimantan Tengah. Hasil penelitian ini sangat diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat setempat, agar lahan rusak pasca tambang emas di Kalimantan Tengah dapat dipulihkan kembali kondisinya, dan dapat lebih produktif. Hasil penelitian tahun I memperlihatkan perlakuan bioremediasi, biofertilisasi, penambahan mikoriza, penambahan senyawa organik, dan penutup tanah secara terpadu, menghasilkan perbaikan fisik tanah ditinjau dari tekstur, dari sebelumnya didominasi tanah berpasir, menjadi tanah dengan terjadinya peningkatan tekstur halus tanah, dan penurunan persentase tekstur pasir. Perbaikan kondisi fisik tanah, memicu tumbuhnya 1 hingga 5 jenis tanaman lain pada tiap plot perlakuan, hal ini tidak ditemukan pada kontrol. Bibit sawit usia 4,5 bulan, tumbuh subur di media tanah pasir dari ex lahan tambang emas, dengan kondisi jumlah daun rata-rata 5 helai, panjang batang rata-rata 20 cm, diameter batang rata-rata 1,22 cm, panjang akar rata-rata 17 cm. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi bibit sawit yang ditanam di tanah subur pada usia yang sama, yakni: jumlah daun 5 helai, panjang batang 26,6 cm, dan diameter batang 1,3 cm. Kondisi pertumbuhan sawit pada tanah pasir yang diberi perlakuan memperlihatkan kenaikan sebesar 40% pada parameter panjang batang, kenaikan jumlah daun sebesar 23%, kenaikan luas permukaan daun sebesar 82%, dibandingkan kontrol. Kesimpulan penelitian: lahan berpasir ex areal penambangan emas, masih punya potensi untuk diolah menjadi lahan produktif untuk lahan perkebunan, terutama dari jenis kelapa sawit. Penelitian tahun II, merupakan uji coba skala lapang, menggunakan formula terbaik hasil seleksi tahun I, dan melibatkan penduduk setempat untuk proses persiapan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Aplikasi gabungan formula terbaik di lapangan ini dilakukan menggunakan 3 teknik, yakni: aplikasi formula cair, semi solid, dan solid, dengan jenis tanaman kelapa sawit, dan tanaman penutup kombinasi Arachis sp. dan Colopogonium sp. Lokasi penelitian tahun ke II di areal pasca tambang emas di Hampalit, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Prodi Pendidikan Biologi
Depositing User: LISWARA NENENG
Date Deposited: 19 Feb 2020 03:15
Last Modified: 19 Feb 2020 03:15
URI: http://repository.upr.ac.id/id/eprint/222

Actions (login required)

View Item View Item